Kenapa aku marah, kepada siapa aku marah tak satupun jawaban aku dapat hanya emosi yang memuncak pada apa saja yang dihadapanku, bertanyalah aku lebih dalam pada moment kesunyian dan kekhusuan, dan setelahnya akupun sadar bahwa aku marah pada diriku sendiri yang tak kunjung memutuskan kemana aku harus pergi.
Aku tak mau terus menerus terjebak dilubang ini, lubang yang begitu menyiksaku, dada ini sesak, mulutku, bibirku, dan lidahku begitu kelu, bahkan senyumpun mampu kuhitung dengan jari pada satu purnama, aku terus menerus bertanya apa sebenarnya yang aku inginkan dan perlukan, apakah sekedar bersenang senang atau gairah kehidupan dengan tujuan.
Jalan apa yang harus ku pilih, aku takut terjerumus pada jalan yang salah dan aku sudah tidak betah berdiam disini, seperti sudah tak sanggup menunggu, sungguh keraguan yang ada dalam hatiku, sungguh aku tak kunjung yakin dan berani memutuskan jalan, disatu sisi aku takut tak mampu menjalani prosesnya dan gagal kemudian aku terbuang pada realistas yang tak pernah kompromi pada kebenaran karena selalu memandang keberhasilan, disisi lain akupun tak mau jika harus berhasil dengan proses dan jalan yang salah.
Tidak satupun orang yang menolongku, yang sanggup dan bersedia menerimaku manakala aku jatuh sehingga aku berani mengambil resiko. Aku sendirian terjebak dengan kaki yang kaku untuk melangkah, waktu terus mendorongku mendesaku, semakin sempit ruang geraku sudah tak mungkin bisa aku kembali, namun didepan ada persimpangan yang begitu sulit untuku memutuskan kemana kaki ini akan kupijakan.
Tuhan tolong aku, sudah tak ada lagi manusia yang peduli padaku, hanya Engkau satu satunya harapanku, berikanlah setitik terang cahayaMu agar pudar segala keragu raguanku, sehingga langkah ini bukan semata mata karena kenekatan dan desakan tapi benar benar karena keyakinan.
“Bukan maksudku mau berbagi nasib, nasib adalah kesunyian masing-masing” - Chairil Anwar
Minggu, 11 November 2018
Rabu, 07 November 2018
KERAGUAN
Bangun, bergerak, berekspresi, lelah dan kemudian tidur, berulang setiap hari hingga saat ini. Entah sejak kapan aku mulai merasa kebingungan kehilangan seluruh arah dan tujuan, barangkali semua ini tidak datang begitu saja, semua datang perlahan lahan, sedikit demi sedikit dimulai dari pertanyaan kecil pada setiap apa yang aku lakukan, pertanyaan tentang apakah semua yang kulakukan benar atau sebenarnya aku terjebak pada realitas orang lain dan bukan lagi pada diriku sendiri. Perlahan seiring dengan kehidupan yang tak mungkin diberhentikan hanya untuk menunggu satu pertanyaan terjawab dan puncaknya pertanyaan pertanyaan ini menggunung kemudian aku tak tahu lagi harus memulai dari mana aku mencari jawaban, maka aku singkat semua kondisiku ini dengan kata keraguan.
Tidak pula aku tak berusaha untuk menelusuri jalan yang menyesatkan ini dengan bertanya tentang apa dan bagaimana kepada setiap orang yang kutemui, hanya saja tak satupun jawaban memuaskan batin, selalu saja semua berakhir dengan abstrak seolah olah ada jawaban namun sebenarnya tidak, aku lebih sering menyerah dengan kata iya kepada jawaban jawaban yang klise, naif dan kadang kadang kurang realistis bak seorang pujangga yang sedang menggombali calon korbanya. Mulai dari sini selain keraguan akhirnya aku berjumpa pada kesepian, seperti tak ada satu orangpun yang mampu senada dengan pembicaraanku, lebih banyak aku temui orang orang yang justru lebih mirip motivator daripada mentor dan pencarian ini masih berlanjut aku belum menyerah hanya sedang lelah untuk berdialog, dan ini menjadi alasan kenapa malam ini aku mencoret coret blog.
Bersambung.....
Tidak pula aku tak berusaha untuk menelusuri jalan yang menyesatkan ini dengan bertanya tentang apa dan bagaimana kepada setiap orang yang kutemui, hanya saja tak satupun jawaban memuaskan batin, selalu saja semua berakhir dengan abstrak seolah olah ada jawaban namun sebenarnya tidak, aku lebih sering menyerah dengan kata iya kepada jawaban jawaban yang klise, naif dan kadang kadang kurang realistis bak seorang pujangga yang sedang menggombali calon korbanya. Mulai dari sini selain keraguan akhirnya aku berjumpa pada kesepian, seperti tak ada satu orangpun yang mampu senada dengan pembicaraanku, lebih banyak aku temui orang orang yang justru lebih mirip motivator daripada mentor dan pencarian ini masih berlanjut aku belum menyerah hanya sedang lelah untuk berdialog, dan ini menjadi alasan kenapa malam ini aku mencoret coret blog.
Bersambung.....
Rabu, 17 Oktober 2018
KEMANA
Kemana perginya cinta,
Tak ada lagi direlung jiwa,
Terlalu lamakah aku menyepi,
Atau aku yang sudah tak peduli,
Sepenggal kalimat tanya,
Apakah aku harus memaksa?
Tiada hati menurut pada kata kata
Jiwa ini tak pantas dipaksa
Bukan maksud sengaja menyendiri,
Tiada jiwa yang senang pada sepi,
Aku masih menunggu dan menanti,
Pada bau cinta yang mewangi,
Tak pula aku sedang menimang nimang nostalgia,
Sudah lama kenangan aku anggap hanya cerita,
Sudah kubilang berkali kali,
Aku tak kuasa memaksa cinta pada diri dan hati,
Kamis, 11 Oktober 2018
Pertanyaan
Jikalau semua manusia mempunyai kedudukan yang sama, maka apakah pantas sebagian dari kita kemudian menentukan nilai nilai kemanusiaan, menentukan nilai nilai kebaikan mendefinisikan baik dan buruk, yang superior mengatur cara hidup inferior, jika demikian maka dimana makna dari kesetaraan. Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa keputusan yang disepakati bersama ternyata bukanlah tolok ukur kebenaran untuk nilai nilai yang bersifat tetap, sebut saja HAM, bagaimana setiap orang kemudian dengan sekehendak hati menentukan apa itu HAM hanya karena mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan, kemudian mengabaikan suara suara kaum lemah yang tidak memiliki suara.
Bahwa jika kita sebenarnya tetap membutuhkan definisi tentang baik dan buruk sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan maka sangat tidak adil jika kita menggunakan referensi dari sekelompok manusia yang dianggap lebih superior dari kebanyakan, tapi pada hakikatnya merekapun sama sama tak paham darimana kita berasal dan untuk apa kita diciptakan dan apa sebenarnya kita ini, merekapun semua hanya menerka nerka mana yang baik dan mana yang buruk menurut pengalaman hidup sehingga banyak sekali kemudian pertanyaan pertanyaan yang tak mampu dijawab oleh manusia dikarenakan setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda.
Rabu, 10 Oktober 2018
KEGELISAHAN
Setiap hari adalah kebosanan, seribu pertanyaan berkumpul bak sebuah benang kusut yang aku tak mampu menemukan pola untuk mengurainya, aku tak punya ghirah, aku selalu bingung untuk menjawab apa yang harus kulakukan esok, puncaknya adalah kegelisahan yang membuatku menjadi penikmat malam, penikmat ruang gelap berukuran 3 x 3 meter, disini dulu aku memulai mimpi yang menggebu, disini pula aku sekarang tersesat dari jalan.
Kuhabiskan waktu meminum kopi, menghisap tembakau, bermain apapun ku lakukan untuk membunuh kebosanan dan dan melupakan kegelisahan, berharap waktu akan menjawab seluruh pertanyaanku, semoga semua terjawab sebelum tubuhku ku rusak oleh semua kebiasaan ini.
Aku hanya berharap semua ini bukan sebab rasa kesepian, jika demikian maka mungkin akan sulit bagiku menyembuhkan, sudah lama aku tak bersua bercanda dan bercerita kepada siapapun, sudah kucoba tapi tak ada yang mampu menjadi lawan bicaraku, semua seakan tak memuaskanku, semua tak bisa seperti yang kuharapkan, bahkan kadang aku berfikir mungkin aku butuh kasih sayang, namun sedemikan rasa ku paksakan tiada satupun yang mampu menembus rasaku.
Kadang kadang aku juga berfikir apakah aku sudah gila. Aku tetap berharap segera mendapat jawabanya, dan semoga malam ini aku bisa mengucapkan selamat tidur untuk yang akhir akhir ini selalu menemani insomniaku ''KEGELISAHAN".
Minggu, 30 September 2018
Jawaban tanpa pertanyaan
Merindukan seseorang yang bahkan tak ada adalah sebuah kehampaan yang nyata, bagaimana tidak jangankan menggapai mengharapun tak bisa tak ada tujuan yang kutuju tak juga tahu harus berjuang seperti apa, bagiku mencintai seperti barang lapuk biarpun hati sudah kupaksa. Pelita hatiku ia tak mau menyala didalam hati, dingin dan gelap semua adalah rasa yang terpendam sejak pelita terakhir yang redup dan mati.
Jikalau aku boleh meminta datangkanlah sebuah pelita yang terang mesti tak seperti matahari biarpun tak sehangat dekapan ibu, bebaskan aku dari rasa sepi yang mendekap, jangan biarkan aku terlalu lama menanti dalam doa, aku tak memgerti aku belum pernah sepecundang ini, akupun tak ingin mempecundangi orang lain dengan melabuhkan cinta palsu, berpura pura melebur kesepian yang justru menyeretku pada gelepan yang abadi, sungguh aku tak ingin menyakiti orang lain dengan menjadikanya pelarian semata.
Jikalau cinta harus dipaksa mengapa sulit bagiku, jikalau rindu harus ku labuhkan kemana aku melabuhkan, jikalau sepi harus ku riangkan kemana aku harus cipta kegaduhan, aku bukan lagi anak anak yang bisa dengan mudah memasang wajah polos untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, akupula bukan orang dewasa yang pintar memakai topeng, kemanakah aku harus mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang tak ada.
Gelisah adalah makanan sehari hari, belagak baik baik saja aku kadang bingung memilih antara memasang muka senyum palsu atau wajah serius yang menjengkelkan, sudah lama aku putuskan untuk tidak jatuh pada nafsu selama itu pula aku menahan dan mmenunggu kedatangan yang kunantikan.
Aku perlu tujuan yang mampu menghilangkan hingar bingar yang membingungkan.
Senin, 26 Februari 2018
Kisahmu
Aku tidak mengenalmu dari musim gugur yang menjatuhkan daun daun dan menyebarkan suasana pilu,
Aku tidak mengenalmu dari musim dingin yang membalut permukaan dengan salju dan membuat suasana dingin,
Aku tidak mengenalmu dari musim semi yang menhijaukan bumi dan menebar keriangan,
Akupun tak mengenalmu dari musim panas yang menggersangkan bumi dan mengusir manusia dari pelukan angin,
Aku hanya mengenalmu lewat rintik air dari langit yang membatasi dua musim, Datang dan perginya yang selalu diiringi hujan,
Dimana setiap pagi dan petangnya selalu menggoreskan kisah pada dinding kenangan,
Disanalah aku mengenalmu dan disana pula aku mengikhlaskanmu,
Sedang sisa sisa kisahku dan kamu,
Terekam pada percik air usai hujan,
Dan seketika sampailah padaku kenangan itu pada nafas pertama,
Oleh angin yang menebarkan bau basah.
Aku tidak mengenalmu dari musim dingin yang membalut permukaan dengan salju dan membuat suasana dingin,
Aku tidak mengenalmu dari musim semi yang menhijaukan bumi dan menebar keriangan,
Akupun tak mengenalmu dari musim panas yang menggersangkan bumi dan mengusir manusia dari pelukan angin,
Aku hanya mengenalmu lewat rintik air dari langit yang membatasi dua musim, Datang dan perginya yang selalu diiringi hujan,
Dimana setiap pagi dan petangnya selalu menggoreskan kisah pada dinding kenangan,
Disanalah aku mengenalmu dan disana pula aku mengikhlaskanmu,
Sedang sisa sisa kisahku dan kamu,
Terekam pada percik air usai hujan,
Dan seketika sampailah padaku kenangan itu pada nafas pertama,
Oleh angin yang menebarkan bau basah.
Langganan:
Postingan (Atom)