Kamis, 04 Januari 2018

DUKA DUA

Tiada rasa yang tersimpan,
Semua nampak pada mata hati,
Seperti lelah sudah aku berlari,
Memaling muka hanya berpura belaka,

Meyakinkan diri dari yang terjadi,
Aku lebih memilih menerima,
Dihadapan tuhan dan minta ampunan,
Tapi daya memaksa raga bercerita,

Melawan tak tau menang atau karam,
Menunggu hanya jadi sebab pilu,
Merekah dada sudah diujungnya,
Menahan lentusan murka di dada,

Ah aku nekad saja,
Daripada kerja paksa,
Dan mati oleh kecewa,
Hidup pula tak pernah tertawa,
Kecuali sebuah sandiwara.

DUKA

Tak ada yang lebih menyiksa daripada ini,
Perang antara cita dan keraguan,
Derunya menggema otak,
Getarnya menggoyah jiwa,
Dan silatnya menusuk jantung,

Pikirku melayang diantara ketidakpastian,
Nyaliku menciut keriput,
Menyisakan tulang yang bergetar,
Tiba tiba aku menua,
Tak punya nyali melawan dunia,

Tubuhku membeku,
Terjepit antara realita dan mimpi,
Sungguh sakit, aku ingin pergi,
Bergerak bebas tanpa memikirkan,
Beban yang tak seharusnya,

Apakah ini keluhan,
Atau penyakit yang menggerogoti jiwa,
Aku pinta keadilan,
Tunjukilah aku pada keadilan,
Aku bosan muak dan pedih.

Senin, 01 Januari 2018

Rindu Bahagia

Kita seruang sewaktu,
Dilorong lorong sempit itu kami bergerak sejalan,
Dilorong itu pula kami bergerak masing masing,
Yang terlihat atau dibalut rasa kantuk,

Nampak muka muka yang merindu wanginya pembaringan,
Sedang aku harus merindu apa,
Rasanya lelah menolaku, dan sepi memeluku,
Aku ingin bebas dari rutinitas,

Jikalau aku malas,
Maka aku ingin dipecut,
Jikalau aku pengecut,
Maka aku ingin sembuh lekas.





Minggu, 31 Desember 2017

Sahaja pagi

Samar samar bunyi kipas terdengar,
Memaksa kelopak terbuka,
Kulihat tiada jam, hanya gelap dan sepinya,
Lalu kuputuskan untuk bersahaja.

Sekali lagi kututup keramik dengan permadani,
Setelah kubilas muka dengan tiga genggam berkali kali,
Kukira indah namun tak terkira ini jadi ironi,
Aku didakwa oleh diriku lagi.

Sejuta alibi, sejuta ampun,
Aku tak berdaya lagi,
Hanya untaian maaf sembunyi sembunyi,
Semoga berakhir bersama santun.

Dibawah mega yang didirong surya,
Kulihat merekah batas diantara keduanya,
Aku mau apa lagi, selain kuseduh secangkir kopi, 
Kuharap pagiku lak melayang dan begitu saja pergi.

Sabtu, 30 Desember 2017

LUSUH


Ombak dia rapuh tapi gigih bahkan karangpun tak berdaya diterjangnya, ia perumpamaan bagi orang orang yang tak pantang menyerah orang lemah siapa tak mendamba di asosiasikan denganya. Motivatorpun tak segan menganalogikan ombak sebagai bahan cerita membangkitkan semangat orang orang lemah, bagiku si lemah kadang semangat seperti sebuah gunung yang meletus membara, menggelora tapi selayaknya sebuah gunung ketika laharnya sudah dimuntahkanya habis ia pun kembali tenang, sayup kokoh bak tak pernah membara. Bagiku yang lemah selalu melamuni mencari cara agar inginku segera tercapai, namun malang nian setan malas didadaku tak ijinkan setiap angan disampaikan pada kaki tangan dan badan, sehingga kepala ini tersumpat, ide ini tak mengalir kepada gerakan, seperti akan meletus berdenyut penuh angan tapi kosong yang berputar dikepala.
Aku pikir Ombak adalah terbaik namun aku lupa disana ada buih yang begitu menakutkan tampaknya namun ia hanya hasil percikan dari air yang mengamuk karang, sekejap muncul dari tumbuknya air dan karang seketikapun hilang, berulang ulang. aku masih menjadi buih muncul hilang muncul hilang aku seperti bosan, seperti muak dengan keadaan, tapi aku takut, jika aku memilih mundur apakah aku bisa jadi gelombang atau aku akan hanyut ke samudera tenang, yang bahkan kapalpun tak sudi berlayar, sungguh kebingungan ini menyusahkan, kepada siapa aku harus berpeluh, sedang akupun paham tempatku mengadu Tuhanku ia tak suka pada pemalas, ia tak suka pada orang orang yang diam, Tuhan berilah aku satu pecut saja sehingga kakiku masuk kepada jalan dimana aku dipaksa berjalan tak bisa berdiam, aku bosan. Ramai sekali kepalaku akhir akhir ini memikirkan apa dan bagaimana pundaku mulai rapuh kakiku mulai loyo, seberapapun hatiku tak sudi berhenti tapi beban ini semakin berat raga ini hampir musnah sepertinya. Akankah aku masuk surga jua jika aku pasrah kepada kemunafikan tapi sungguh akupun tak yakin sedangkan keningku saja tak mengapal, lututku saja lebih senang telentang daripada menekuk dihadapMu, apa aku akan sengsara diduni dan disana.
Aku sungguh menginginkan lembaran baru, dimana jiwaku tak lagi bergejolak, pilihkan padaku berikan padaku salah satu, jikalau Kau sudi beri aku keduanya maka itu adalah cita-cita, omongku ngelantur berputar putar akupun sadar itu sehingga aku tak percaya sebagai mahluk yang berguna, jiwaku tertekan tertatih merasa tak berguna. Ya Tuhan beri aku satu saja cahayaMu yang abadi sehingga hati yang busuk ini sembuh. Biarkan aku jadi berguna, aku tak ingin jadi sampah dunia sampai aku membusuk di tanahMu. Aku tahu kebenaranMu tapi aku lemah, selemah-lemahnya yang pernah aku rasa, aku tak mampu ambil keputusan.
Disana dibelakangku ada dua orangtuaku aku yang tak mungkin tega dengan mereka, sedang didepan aku sedang diseret diarak dihadapan orang orang yang menunggu bukti ataupun menungguku jatuh, tapi apalah aku sampai saat ini aku tak ada aku kosong, aku masih menjadi buih disepersekian detikMu aku bergelora tapi disepersekian detikMu yang lain aku musnah, berulang-ulang, setidakjelasnya apa maksud hatiku aku yakin Kau pasti mengerti ya Rabbku, beri aku jalan dan langkah ya Tuhan, Berikan aku keberanian. Aku tak mau jadi pemuda penunggu ajal.


Selasa, 26 September 2017

MUSIM BARU

Berkelanaku bukan tanpa tujuan hanya saja pandangku masih tertutup kabut, bagiku kemarin asalkan mampu berjalan dan menggapai apa yang terlihat dibalik kabut adalah kesyukuran yang luar biasa, bukanya aku pesimis hanya saja aku harus realistis bahwa aku tak berhak terlalu egois meninggalkan sesuatu yang berharga hanya demi lebih cepat menerobos kabut itu, karena aku percaya cepat atau lambat kabut ini akan hilang atau aku yang akan berhasil melewatinya.
yah aku percaya mulai hari ini mungkin waktunya, aku mulai melihat kabut ini menipis, samar samar aku sudah bisa melihat dengan jauh apa yang ada didepanku, akupun tak lagi perlu takut kehilangan orang orang disekitarku jika aku harus berlari lebih jauh sedikit, karena kabut ini sudah tipis. semoga tuhan merestui apa yang akan aku lakukan, walaupun selama ini akupun tak cukup erat memegang tangan orang orang terdekatku dalam melewati kabut ini.
Jika tuhan mengijinkan maka ijinkan kali ini aku berlari, dan restuilah serta jernihkan segala pandangku, berilah aku keringanan dalam melangkah, dan jagalah setiap orang yang berharga bagiku selama aku berlari, sampai nanti aku bisa kembali lagi dan menjukukan kepada mereka bahwa aku bukanlah seorang pengecut ataupun orang lumpuh yang tak mampu berlari.

Senin, 30 Maret 2015

BUKAN KANAN ATAU KIRI TAPI KEDEPAN

Melihat isu pergerakan mahasiswa akhir-akhir ini cukup menarik bagi saya, apalagi membahas mengenai begitu besarnya antusias seluruh aktifis mengawal kinerja pemerintah pusat beserta kebijakanya, tentu ini bukan hal yang aneh bagi mereka, karena memang sedari awal mereka telah dididik untuk bisa menjadi penyambung lidah rakyat, agent of change, iron stock dan berbagai hal lain yang telah terpatri didalam jiwa mereka, tentu saja tindakan seperti itu memang harus ada disetiap diri kaum intelektual dan akademisi, bukan hanya sebuah tanggungjawab yang tertulis melalui tridharma, akan tetapi sebagai kaum akedemis hal itu harusnya menjadi panggilan jiwa dan bentuk pertanggungjawaban moral atas apa yang digelarkan kepada mereka. 
Tentu saya sangat mengapresiasi apa yang mereka lakukan, apa yang mereka perjuangkan, jelas keberpihakan mereka adalah kepada rakyat dan menegakan kembali demokrasi sebagaimana seharusnya, akan tetapi melihat kondisi akhir-akhir ini, saya sedikit ragu apakah cara yang mereka lakukan sudah pada jalurnya dan apa yang mereka perjuangkan benar-benar murni tanpa adanya konspirasi terselubung baik itu secara langsung ataupun tidak langsung dari pihak-pihak luar, siapa yang tak tahu jika pemuda adalah ujung tombak perubahan, bukan tidak mungkin ada orang-orang yang sadar mengenai kekuatan ini dan memanfaatkanya untuk kepentingan pribadi karena sekali pemuda memiliki konsepsi perjuangan yang mereka yakini benar maka mereka akan memperjuangkanya mati-matian hingga terwujud, ini bukan sekedar subjektifitas pemikiran saya, tapi sejarah bangsa inilah yang mengatakan, kita pasti tahu sumpah pemuda, proklamasi, dan terakhir adalah tahun 98, semua itu adalah hasil karya para pemuda dan bagaimana keberhasilan mereka mengalahkan rezim-rezim yang dianggap menindas rakyat, namun sejarah juga mencatat dibalik keberhasilan tersebut selalu ada pihak yang memanfaatkan kemenangan para pemuda ini, yang dulu berdiri ikut dibarisan mereka untuk memperjuangkan hak rakyat namun setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan kemudian berbalik menghianati hasil perjuangan tersebut, mungkin benar kata soe hok gie "ketika kita melihat peristiwa sejarah, seolah-olah apa yang kita lihat hanyalah penghianatan" seperti kemajuan dan pergerakan bangsa tidak pernah lepas dari peristiwa² seperti itu. Maka sudah sepatutnya sebagai kaum terdidik kita harus berhati-hati dalam bertindak.
Sejauh yang saya tahu saya sepakat dengan tuntutan yang disampaikan oleh aktifis kepada pemerintah saat ini, mengenai kebijakan yang  terkesan bergerak dengan sewenang-wenang, dimana rakyat semakin tercekik, penegakan hukum yang tidak jelas, kebijakn harga BBM, melemahnya pemberantasan korupsi, lembeknya penanganan kasus narkoba dan lebih lagi peran media-media kabar yang seharusnya bertindak netral kini semakin terlihat jelas keberpihakan mereka, akan tetapi yang harus kita koreksi bersama adalah uforia ini seperti sudah tidak lagi pada jalurnya dimana pemikiran ilmiah yang seharusnya dikedepankan sebagai kaum terdidik harus tertutup dengan semangat yang bercampur amarah, jika kita lihat sebenarnya yang kita perjuangkan adalah menuntut kepada pemerintah untuk bekerja dengan baik dan meninjau kebijakan² yang salah, bukan sekedar sikap yang selalu mudah mengatakan mundur, turun atau lengserkan, yang perlu lebih kita perjuangkan adalah mengawal kebijakannya bukan menyerang fisiknya, analoginya "bukankah lebih baik kita mengikir gergaji yang berkarat dan tumpul daripada selalu menggantinya dengan gergaji yang baru yang itupun belum terjamin tidak akan berkarat juga", selain itu mereka juga produk demokrasi seluruh bangsa bukan golongan, suku, ras atau agama, yang sudah sepatutnya kita perlakukan sebagaimana mestinya, karena bisa jadi ini bukan dilakukan dengan kesengajaan namun karena kehilafan yang harus kita luruskan .
Maka kita harus meluruskan kembali niat awal dan bentuk perjuangan kita, karena apa yang kita sampaikan dan suarakan pasti akan menimbulkan bias kepada masyarakat luas karena sejatinya kita sebagai aktifis dan akdemisi adalah orang-orang yang pemikiranya juga dipertimbangkan dan berpengaruh juga terhadap pola pikir dan sikap seluruh rakyat Indonesia.