Minggu, 30 September 2018

Jawaban tanpa pertanyaan

Merindukan seseorang yang bahkan tak ada adalah sebuah kehampaan yang nyata, bagaimana tidak jangankan menggapai mengharapun tak bisa tak ada tujuan yang kutuju tak juga tahu harus berjuang seperti apa, bagiku mencintai seperti barang lapuk biarpun hati sudah kupaksa. Pelita hatiku ia tak mau menyala didalam hati, dingin dan gelap semua adalah rasa yang terpendam sejak pelita terakhir yang redup dan mati.
Jikalau aku boleh meminta datangkanlah sebuah pelita yang terang mesti tak seperti matahari biarpun tak sehangat dekapan ibu, bebaskan aku dari rasa sepi yang mendekap, jangan biarkan aku terlalu lama menanti dalam doa, aku tak memgerti aku belum pernah sepecundang ini, akupun tak ingin mempecundangi orang lain dengan melabuhkan cinta palsu, berpura pura melebur kesepian yang justru menyeretku pada gelepan yang abadi, sungguh aku tak ingin menyakiti orang lain dengan menjadikanya pelarian semata. 
Jikalau cinta harus dipaksa mengapa sulit bagiku, jikalau rindu harus ku labuhkan kemana aku melabuhkan, jikalau sepi harus ku riangkan kemana aku harus cipta kegaduhan, aku bukan lagi anak anak yang bisa dengan mudah memasang wajah polos untuk mendapatkan apa yang kuinginkan, akupula bukan orang dewasa yang pintar memakai topeng, kemanakah aku harus mencari jawaban dari sebuah pertanyaan yang tak ada.
Gelisah adalah makanan sehari hari, belagak baik baik saja aku kadang bingung memilih antara memasang muka senyum palsu atau wajah serius yang menjengkelkan, sudah lama aku putuskan untuk tidak jatuh pada nafsu selama itu pula aku menahan dan mmenunggu kedatangan yang kunantikan.
Aku perlu tujuan yang mampu menghilangkan hingar bingar yang membingungkan.

Senin, 26 Februari 2018

Kisahmu

Aku tidak mengenalmu dari musim gugur yang menjatuhkan daun daun dan menyebarkan suasana pilu,
Aku tidak mengenalmu dari musim dingin yang membalut permukaan dengan salju dan membuat suasana dingin,
Aku tidak mengenalmu dari musim semi yang menhijaukan bumi dan menebar keriangan,
Akupun tak mengenalmu dari musim panas yang menggersangkan bumi dan mengusir manusia dari pelukan angin,

Aku hanya mengenalmu lewat rintik air dari langit yang membatasi dua musim, Datang dan perginya yang selalu diiringi hujan,
Dimana setiap pagi dan petangnya selalu menggoreskan kisah pada dinding kenangan,
Disanalah aku mengenalmu dan disana pula aku mengikhlaskanmu,

Sedang sisa sisa kisahku dan kamu,
Terekam pada percik air usai hujan,
Dan seketika sampailah padaku kenangan itu pada nafas pertama,
Oleh angin yang menebarkan bau basah.

Selasa, 20 Februari 2018

Senja hidup

Tidak ada senja yang terlalu awal atau datangnya terlambat, Kalaupun langit tak selalu cerah, dan jingganya tertutup mendung, Ia selalu ada dan akan selalu datang, Membawa suasana suram dibatas suasana, Menjadi tanda akan datangnya malam yang gelap, Membawa suasana yang sepi dan kesepian, Memberi isyarat pada jiwa dan raga untuk berhenti terjaga dan menyuruh istirahat, untuk menyambut cerah berikutnya, dan aku percaya hidup selaksana siang dan malam yang berganti, Ketika kesepian yang suram datang disitulah senja hidup kita, sebentar lagi istirahatlah, kemudian siapkan untuk pagi yang cerah berikutnya.

Senin, 05 Februari 2018

SAJAK-KU

Sajak-ku adalah naungan,
Bagi gelisah yang ingin damai,
Sedih yang ingin berbahagia,
Dan tangis yang ingin tersenyum,

Seluruhnya emosi berselimut etika,
Mencari rupa tampan dari bahasa,
Menutupi luapan murka,
Lewat jalan yang beradab,

Resah adalah tandaku,
Dari murka yang mendesak,
Aku hanya ingin tetap bersahaja,
Saat emosi meletup dan meletus.

Minggu, 04 Februari 2018

Cari

Aku berlari kesana kemari,
Menoleh kanan dan kiri,
Keningku mengembun,
Lalu mengucur seperti mata air,

Aku masih mencari cari,
Kupandang seluruhnya,
Tapi luputku pada diri,
Tersadar itu ada didalam diri,

Kini aku mengerti,
Kau bukan berada diluar sana,
Kau bersemayam didalam dada,
Tapi tak sampai aku menggapaimu,

Aku takut merobek dada,
Betapapun sadar kau bersemayam disana,

Sabtu, 03 Februari 2018

Hujan

Aku seperti melihat kemarahan pada hujan hari ini,
Ia mengibas ngibaskan kemarahan,
Dengan percikan cahaya dan suara gertakan,
Setelah seharian tenang bersahaja

Apakah ada doa,
Apakah ada pertanda,
aku menanti hujan yang membelai,
Mendinginkan setiap jiwa yang mengamuk

Jumat, 02 Februari 2018

Bimbang

Hidup adalah bergerak,
Bergerak selalu butuh tujuan,
Tujuan membutuhkan jalan,
Jalan selalu mempunyai konsekuensi baik dan buruk untuk ditempuh,

Jikalau tujuanku adalah hanya untuk dihargai,
Maka apakah untuk aku harus memilih jalan,
Jalan tercepat mungkin dengan tak melihat baik dan buruk,
Tapi norma selalu membentengi tekad,

Aku tak benci norma,
Hanya saja tujuanku,
Seperti dibelenggu norma,
Aku ragu memilih tujuan atau norma

Jikalau kupilih norma,
Siapa yang akan menghargai,
Hidupku dikelilingi mata mata nominal,
Mereka tak pernah memandang cara

Mata mata itu,
Selalu melihat materi,
Sedang aku bukan putus asa,
Aku hanya masih punya norma,